Hal Hal Pakaian Yang Harus di Ketahui oleh Setiap Muslimah

muslim Pakistan Girl

Memakai Pakaian Lut Cahaya & Membentuk Tubuh/Ketat

Sebab yang namanya menutup itu tidak akan terwujud kecuali tidak lut cahaya. Jika lut cahaya , maka hanya akan mengundang fitnah (godaan) dan bererti menampakkan perhiasan. Dalam hal ini Rasulullah telah bersabda :

“Pada akhir umatku nanti akan ada wanita-wanita yang berpakain namun (hakikatnya) telanjang. Di atas kepala mereka seperti punduk unta. Kutuklah mereka kerana sebenarnya mereka adalah kaum wanita yang terkutuk.”

(At-Thabrani Al-Mujamusshaghir : 232).

Di dalam hadis lain terdapat tambahan iaitu : “Mereka tidak akan masuk syurga dan juga tidak akan mencium baunya, padahal baunya syurga itu dapat dicium dari perjalanan sekian dan sekian.”

(HR.Muslim).

Ibnu Abdil Barr berkata : “Yang dimaksud oleh Nabi adalah kaum wanita yang mengenakan pakaian yang tipis, yang dapat mensifati (menggambarkan) bentuk tubuhnya dan tidak dapat menutup atau menyembunyikannya. Mereka itu tetap berpakaian namanya, akan tetapi hakikatnya telanjang.”

(Tanwirul Hawalik III/103).

Dari Abdullah bin Abu Salamah, bahawasanya Umar bin Al-Khattab ra pernah memakai baju Qibtiyah (jenis pakaian dari Mesir yang tipis dan berwarna putih) kemudian Umar berkata : “Jangan kamu pakaikan baju ini untuk isteri-isterimu!. Seseorang kemudian bertanya : Wahai Amirul Muminin, telah saya pakaikan itu kepada isteriku dan telah aku lihat di rumah dari arah depan mahupun belakang, namun aku tidak melihatnya sebagai pakaian yang tipis !. Maka Umar menjawab : Sekalipun tidak tipis, namun ia menggambarkan lekuk tubuh.”

(H.R. Al-Baihaqi II/234-235).

Usamah bin Zaid pernah berkata: Rasulullah saw  pernah memberiku baju Qibtiyah yang tebal yang merupakan baju yang dihadiahkan oleh Dihyah Al-Kalbi kepada beliau. Baju itu pun aku pakaikan pada isteriku. Nabi bertanya kepadaku: “Mengapa kamu tidak mengenakan baju Qibtiyah ?” Aku menjawab : Aku pakaikan baju itu pada istriku. Nabi lalu bersabda :

“Perintahkan ia agar mengenakan baju dalam di balik Qibtiyah itu, kerana saya kuwatir baju itu masih boleh menggambarkan bentuk tulangnya.”

(Ad-Dhiya Al-Maqdisi : Al-Hadits Al-Mukhtarah I/441).

Aisyah ra pernah berkata: ” Seorang wanita dalam salat harus mengenakan tiga pakaian : Baju, jilbab dan khimar. Adalah Aisyah pernah mengulurkan izar-nya (pakaian sejenis jubah) dan berjilbab dengannya

(Ibnu Sad VIII/71).

Pendapat yang senada juga dikatakan oleh Ibnu Umar : ” Jika seorang wanita menunaikan salat, maka ia harus mengenakan seluruh pakaiannya : Baju, khimar dan milhafah (mantel)”

(Ibnu Abi Syaibah: Al-Mushannaf II:26/1).

Memakai Pakaian menyerupai pakaian Wanita Kafir

Syariat Islam telah menetapkan bahwa kaum muslimin (laki-laki mahupun perempuan) tidak boleh bertasyabuh (menyerupai) kepada orang-orang kafir, baik dalam ibadah, ikut merayakan hari raya, dan berpakaian khas mereka. Dalilnya Firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala surat Al-Hadid ayat 16, yang ertinya :

“Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman, untuk tunduk hati mereka mengingat Allah dan kepada kebenaran yang telah turun (kepada mereka) dan janganlah mereka seperti orang-orang yang sebelumnya telah diturunkan Al-Kitab kepadanya, kemudian berlalulah masa yang panjang atas mereka lalu hati mereka menjadi keras. Dan kebanyakan di antara mereka adalah orang-orang yang fasik

(Al-Hadid:16).”

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah berkata: Firman Allah swt dalam surat Al-Hadid ayat 16, yang ertinya: “Janganlah mereka seperti…” merupakan larangan mutlak dari tindakan menyerupai mereka, di samping merupakan larangan khusus dari tindakan menyerupai mereka dalam hal membatunya hati akibat kemaksiatan

(Al-Iqtidha… hal. 43).

Ibnu Katsir berkata ketika menafsirkan ayat ini (IV/310):

Kerana itu Allahswt  melarang orang-orang beriman menyerupai mereka dalam perkara-perkara pokok maupun cabang.

Allah berfirman :

Ertinya: “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu katakan (kepada Muhammad).“Raaina” tetapi katakanlah “Unzhurna” dan dengarlah. Dan bagi orang-orang yang kafir siksaan yang pedih”

(Q.S.Albaqarah:104).

Lebih lanjut Ibnu Katsir berkata dalam tafsirnya (I/148):

“Allah melarang hamba-hamba-Nya yang beriman untuk menyerupai ucapan-ucapan dan tindakan-tindakan orang-orang kafir. Sebab, orang-orang Yahudi suka menggunakan perlesetan kata dengan tujuan mengejek. Jika mereka ingin mengatakan “Dengarlah kami” mereka mengatakan “Raaina” sebagai perlesetan kata “ruunah” (ertinya keseluruhan) sebagaimana firman Allah dalam surat An-Nisa ayat 46.

Allah juga telah memberitahukan dalam surat Al-Mujadalah ayat 22, bahawa tidak ada seorang mukmin yang mencintai orang-orang kafir. Barangsiapa yang mencintai orang-orang kafir, maka ia bukan orang mukmin, sedangkan tindakan menyerupakan diri secara lahiriah merupakan hal yang dicurigai sebagai wujud kecintaan, oleh kerana itu diharamkan.

 

Leave a comment

Filed under Muslimah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s