Masjid

Bkt Kayu Hitam

MASJID: Sejarah dan Fungsinya

Masjid atau mesjid adalah rumah tempat ibadah umat Muslim. Masjid artinya tempat sujud, dan mesjid berukuran kecil juga disebut musolla, langgar atau surau. Selain tempat ibadah masjid juga merupakan pusat kehidupan komuniti muslim. Kegiatan – kegiatan perayaan hari besar, perbincangan, kajian agama, ceramah dan belajar Al Qur’an sering dilaksanakan di Masjid. Bahkan dalam sejarah Islam, masjid turut memegang peranan dalam aktiviti sosial kemasyarakatan hingga ketenteraan.
Etimologi
Masjid bererti tempat beribadah. Akar kata dari masjid adalah sajada dimana sajada bererti sujud atau tunduk. Kata masjid sendiri berakar dari bahasa Aram. Kata masgid(m-s-g-d) ditemukan dalam sebuah inskripsi dari abad ke 5 Sebelum Masehi. Kata masgid (m-s-g-d) ini berarti “tiang suci” atau “tempat sembahan”.

Kata masjid dalam bahasa Inggeris disebut mosque. Kata mosque ini berasal dari kata mezquita dalam bahasa Spanyol. Sebelum itu, masjid juga disebut “Moseak”, “muskey” , “moscey” , dan “mos’key”. Diduga kata-kata ini mengandung nada yang melecehkan.

Contohnya pada kata mezquita yang diduga berasal dari kata mosquito. Tapi, kata mosque kemudian menjadi terkenal dan dipakai dalam bahasa Inggeris secara meluas.

Sejarah

Menara-menara, serta kubah masjid yang besar, seakan menjadi saksi betapa jayanya Islam pada kurun abad pertengahan. Masjid telah melalui serangkaian tahun-tahun terpanjang di sejarah hingga sekarang. Mulai dari Perang Salib sampai Perang Teluk.
Selama lebih dari 1000 tahun pula, arsitektur Masjid perlahan-lahan mulai
menyesuaikan bangunan masjid dengan rekabentuk moden.
Masjid pertama

Ketika Nabi Muhammad saw tiba di Madinah, beliau memutuskan untuk membangun sebuah masjid, yang sekarang dikenal dengan nama Masjid Nabawi, yang bererti Masjid Nabi. Masjid Nabawi terletak di pusat Madinah. Masjid Nabawi dibangun di sebuah lapangan yang luas. Di Masjid Nabawi, juga terdapat mimbar yang sering digunakan oleh Nabi Muhammad saw.
Masjid Nabawi menjadi jantung kota Madinah saat itu. Masjid ini digunakan untuk kegiatan politik, perencanaan kota, menentukan strategi ketenteraan, dan untuk mengadakan perjanjian. Bahkan, di kawasan sekitar masjid digunakan sebagai tempat tinggal sementara oleh orang-orang fakir miskin.

Saat ini, Masjidil Haram, Masjid Nabawi dan Masjid al-Aqsa adalah tiga masjid
tersuci di dunia.

Penyebaran masjid

Masjid kemudian dibangun di daerah luar Semenanjung Arab, seiring dengan kaum Muslim yang bermukim di luar Jazirah Arab. Mesir menjadi daerah pertama yang dikuasai oleh kaum Muslim Arab pada tahun 640. Sejak saat itu, Ibukota Mesir, Cairo dipenuhi dengan masjid. Maka dari itu, Cairo digelar sebagai kota seribu menara.
Beberapa masjid di Cairo berfungsi sebagai sekolah Islam atau madrasah
bahkan sebagai rumah sakit.
Masjid di Sisilia dan Spanyol tidak menirukan rekabentuk Visigoth, tetapi menirukan rekabentuk bangsa Moor.

Para ilmuwan
Kemudian memperkirakan bahawa bentuk bangunan pra-Islam kemudian diubah menjadi bentuk rekacipta Islam ala Andalus dan Magribi, seperti contoh lengkung tapal kuda di pintu-pintu masjid.
Masjid pertama di China bermula pada abad ke 8 Masehi di Xi’an. Masjid Raya Xi’an, yang terakhir kali di bina pada abad ke 18 Masehi, mengikuti rekacipta China.
Masjid di baghaian barat China seperti di daerah Xinjiang, mengikuti rekabentuk Arab, dimana di masjid terdapat kubah dan menara. Sedangkan, di timur China, seperti di daerah Beijing, mengandung rekabentuk China.
Masjid mulai masuk di daerah India pada abad ke 16 semasa kerajaan Mugal
berkuasa. Masjid di India mempunyai karakteristik rekabentuk masjid yang lain, seperti kubah yang berbentuk seperti bawang. Kubah jenis ini dapat dilihat di Masjid Jama, Delhi.

Masjid pertama kali didirikan di Kesultanan Utsmaniyah pada abad ke 11 Masehi, di mana pada saat itu orang-orang Turki mulai masuk agama Islam. Beberapa masjid awal di Turki adalah Aya Sofya, dimana pada zaman Bizantium, bangunan Aya Sofya merupakan sebuah gereja. Kesultanan Utsmaniyah memiliki karakteristik rekacipta masjid yang unik, terdiri dari kubah yang besar, menara dan bagian luar gedung yang lapang. Masjid di Kesultanan Usmaniyah biasanya menggubahkan tiang-tiang yang tinggi, jalur-jalur kecil di antara kolong kolongdan langit-langit yang tinggi, juga dengan menggabungkan mihrab dalam satu masjid.
Sampai saat ini, Turki merupakan rumah dari masjid yang berciri khas rekabentuk  Utsmaniyah.
Secara bertahap, masjid masuk ke beberapa bahagian di Eropah. Perkembangan jumlah masjid secara pesat mulai terlihat seabad yang lalu, ketika banyak pendatang Muslim yang masuk ke Eropah. Kota-kota besar di Eropa, seperti Munich, London dan Paris memilki masjid yang besar dengan kubah dan menara. Masjid ini biasanya terletak di daerah pendalaman sebagai pusat komuniti dan kegiatan sosial untuk para muslim di daerah tersebut. Walaupun begitu, seseorang dapat menemukan sebuah masjid di Eropah apabila di sekitar daerah tersebut ditinggali oleh kaum Muslim dalam jumlah yang cukup ramai.
Masjid pertama kali muncul di Amerika Serikat pada awal abad ke 20. Masjid yang pertama didirikan di Amerika Serikat adalah di daerah Cedar Rapids, Iowa yang dibangun pada kurun akhir 1920an. Bagaimanapun, semakin banyak pendatang Muslim yang datang ke Amerika Serikat, terutama dari Asia Selatan, jumlah masjid di Amerika Syarikat bertambah secara cepat. Di mana jumlah masjid pada waktu 1950 sekitar 2% dari jumlah masjid di Amerika Syarikat, pada tahun 1980, 50% jumlah masjid di Amerika Syarikat didirikan.

Perubahan tempat ibadah menjadi masjid Menurut sejarawan Muslim, sebuah kota yang ditaklukkan tanpa bantahan dari penduduknya, maka kumpulan Muslim memperbolehkan penduduk untuk tetap mempergunakan gereja  mereka. Tapi, ada beberapa gereja yang beralih fungsi menjadi sebuah masjid dengan persetujuan dari tokoh agama setempat. Misal pada perubahan fungsi Masjid Umayyah, dimana khalifah Bani Umayyah, Abdul Malik mengambil gereja Santo Yohannes pada tahun 705 dari Umat Kristian. Kesultanan Utsmaniyah juga melakukan alih fungsi terhadap beberapa gereja, biara dan chapel di Istanbul, termasuk gereja terbesar Ayasofya yang di ubah menjadi masjid, setelah kejatuhan kota Konstantinopel pada tahun 1453 oleh Muhammad al-Fatih. Beberapa masjid lainnya juga didirikan di daerah suci milik Yahudi dan Kristian, seperti di Jerusalem.
Penguasa Muslim di India juga membangun masjid hanya untuk memenuhi tugas mereka di bidang agama.

Sebaliknya, masjid juga dialih fungsikan menjadi tempat ibadah yang lain, seperti gereja. Hal ini dilakukan oleh umat Kristian di Spanyol yang merubah fungsi masjid di selatan Spanyol menjadi katedral, mengikuti keruntuhan kekuasaan Bani Umayyah di selatan Spanyol.
Masjid Agung Kordoba sekarang dialih fungsikan menjadi sebuah gereja. Beberapa masjid di kawasan Semenanjung Iberia, Eropah Selatan dan India juga dialih fungsikan menjadi gereja setelah kekuasaan Islam tidak berkuasa lagi.
Fungsi keagamaan Ibadah
Artikel utama untuk bahagian ini adalah: Soalat
Semua muslim yang telah baligh atau dewasa harus menunaikan solat lima kali sehari. Walaupun beberapa masjid hanya dibuka pada hari Juma’at, tapi masjid yang lainnya menjadi tempat soalat sehari-hari. Pada hari Juma’at, semua muslim laki-laki yang telah dewasa diharuskan pergi ke masjid untuk menunaikan shalat ke masjid, berdasarkan al-Jum’ah ayat 9:
ﻳﺎ ﻳﻬﺎ اﻟﺬﻳﻦ اﻣﻨﻮا اذا ﻧﻮدي ﻟﺼﻼة ﻣﻦ ﻳﻮم اﻟﺠﻤﻌﺔ ﻓﺎﺳﻌﻮا اﻟﻲ ذآﺮ اﷲ

Fungsi sosial

Pusat kegiatan masyarakat
Banyak pemimpin Muslim setelah wafatnya Nabi Muhammad saw, berlumba-lumba untuk membangun masjid. Seperti kota Mekkah dan Madinah yang berdiri di sekitar Masjidil Haram dan Masjid Nabawi, kota Karbala juga dibangun di dekat makam Imam Husein. Kota Isfahan, Iran dikenal dengan Masjid Imam-nya yang menjadi pusat kegiatan masyarakat. Pada akhir abad ke-17, Syah Abbas I dari dinasti Safawi di Iran merubah kota Isfahan menjadi salah satu kota terbagus di dunia dengan membangun Masjid Syah dan Masjid Syaikh Lutfallah di pusat kota. Ini menjadikan kota Isfahan memiliki lapangan pusat kota yang terbesar di dunia. Lapangan ini berfungsi sebagai pasar bahkan tempat olahraga.
Masjid di daerah Amerika Syarikat dibangun dengan sangat kerap. Masjid biasa digunakan sebagai tempat perkumpulan umat Islam. Biasanya perkembangan jumlah masjid di daerah pinggiran kota, lebih besar dibanding di daerah kota. Masjid dibangun agak jauh dari pusat kota.

Pendidikan
Fungsi utama masjid yang lainnya adalah sebagai tempat pendidikan. Beberapa
masjid, terutama masjid yang didana i oleh pemerintah, biasanya menyediakan tempat belajar baik ilmu keislaman maupun ilmu umum. Sekolah ini memiliki tingkatan dari dasar sampai menengah, walaupun ada beberapa sekolah yang menyediakan tingkat tinggi. Beberapa masjid biasanya menyediakan pendidikan separuh waktu, biasanya setelah subuh, maupun pada waktu petang. Pendidikan di masjid ditujukan untuk semua peringkat  usia, dan mengandungi seluruh pelajaran, mulai dari keislaman sampai sains. Selain itu, tujuan adanya pendidikan di masjid adalah untuk mendekatkan generasi muda kepada masjid. Pelajaran membaca Qur’an dan bahasa Arab sering sekali dijadikan pelajaran di beberapa negara berpenduduk Muslim di daerah luar Arab, termasuk Indonesia.
Kelas-kelas untuk mualaf, atau orang yang baru masuk Islam juga disediakan di masjid-masjid di Eropah dan Amerika Syarikat, dimana perkembangan agama Islam melaju dengan sangat pesat.
Beberapa masjid juga menyediakan pengajaran tentang hukum Islam secara mendalam. Madrasah, walaupun letaknya agak berpisah dari masjid, tapi tersedia bagi umat Islam untuk mempelajari ilmu keislaman.
Kegiatan dan pengumpulan dana Masjid juga menjadi tempat kegiatan untuk mengumpulkan dana. Masjid juga sering mengadakan bazar, dimana umat Islam dapat membeli alat-alat ibadah maupun buku buku Islam. Masjid juga menjadi tempat untuk akad nikah, seperti tempat ibadah agama lainnya.
Masjid tanah liat di Djenné, Mali, secara tahunan mengadakan perayaan untuk mengubahbaik dan membesihkan masjid.

Masjid dan politik

Di penghujung abad ke-20, peranan masjid sebagai tempat berpolitik mulai
meningkat. Saat ini, penyertaan masyarakat mulai menjadi agenda utama masjid-masjid di daerah Barat. Kerana melihat masyarakat sekitar adalah penting, masjid-masjid digunakan sebagai tempat dialog dan perbincangan antara umat Islam dengan bukan-Muslim.
Bantuan Negara yang dimana jumlah penduduk Muslimnya sangat sedikit, biasanya turut membantu dalam hal-hal masyarakat, seperti misalnya memberikan kesempatan untuk pendaftaran pemilih untuk kepentingan pengundi.

Pendaftaran pemilih ini melibatkan masyarakat Islam yang tinggal di sekitar Masjid. Beberapa masjid juga sering mengambil bahagian dalam demonstrasi, penandatanganan permohonan petisyen dan kegiatan politik lainnya.Selain itu, peranan masjid dalam dunia politik terlihat di bahagian lain di dunia.

Contohnya, pada kes pegeboman Masjid al-Askari di Irak. pada bulan Februari 2006. Imam-imam dan khatib di Masjid al-Askari menggunakan masjid sebagai tempat untuk menyeru pada kedamaian ditengah kerusuhan di Irak.

Konflik sosial
Masjid terkadang menjadi sasaran kemarahan umat bukan Muslim. Kadangkala kes persengketan terjadi di beberapa daerah di mana umat Islam menjadi minoriti di daerah tersebut.
Sebagai contoh adalah kes di Masjid Babri. Masjid Babri yang terletak di Mumbai, India menjadi masalah sengketa perbalahan antara masyarakat penganut Hindu dan masyarakat Muslim. Hal ini dikeranakan Masjid Babri berdiri di daerah keramat Mandir.
Sebelum sebuah kesepakatan dibuat, masyarakat Hindu berjumlah 75000 massa menghancurkan bangunan Masjid Babri pada 6 Desember
1992. Selain itu, masjid juga sering menjadi tempat pengejekan dan penyerbuan terhadap umat Muslim setelah terjadinya peristiwa 11 September.
Lebih dari itu, Liga Yahudi diketahui berencana mengebom King Fahd Mosque di Culver City, California.
Masjid Hassan Bek di Palestina menjadi objek penyerbuan kaum Yahudi Israel kepada Muslim Arab.

Pengaruh Saudi
Artikel utama untuk bagian ini adalah: Wahabi
Walaupun Arab Saudi telah berperan dalam membangun masjid sejak awal abad ke-20, tetapi pada pertengahan abad ke-20, Arab Saudi menjadi negara yang paling banyak mendukung  pembangunan masjid di seluruh dunia.
Pada awal 1980-an, pemerintah Arab Saudi, dibawah kepemimpinan Khaled dan Fahd menbiayai pembangunan masjid di beberapa bahagian di dunia. Dana sebesar 45 juta dolar telah dihabiskan untuk membangun masjid di seluruh dunia.
Koran Ainul Yaqin di Saudi Arabia mencatat bahawa pemerintah Arab Saudi telah membangun sekurang kurangnya 1500 masjid dan lebih dari 2000 pusat Islam di seluruh dunia.
Di Amerika Syarikat dan Itali, masjid dan pusat pendidikan Islam telah
berdiri di California dan Rome. Proyek tersebut adalah pelabur terbesar bagi
pemerintah Arab Saudi.

Rekabentuk dan rekacipta

Bentuk Bentuk masjid telah diubah di beberapa bagian negara Islam di dunia. Gaya masjid terkenal yang sering dipakai adalah bentuk masjid Abbasi, bentuk T, dan bentuk kubah pusat di Anatolia. Negara-negara yang kaya dengan minyak biasanya membangun masjid yang megah dengan biaya yang besar dan pembangunannya dipimpin oleh pereka bukan-Muslim yang dibantu oleh pereka Muslim.
Masjid di Kobe, Jepang

Arab-plan atau hypostyle adalah bentuk-bentuk awal masjid yang sering dipakai dan dipelopori oleh Bani Umayyah. Masjid ini berbentuk persegi ataupun persegi panjang yang dibangun pada sebuah dataran dengan halaman yang tertutup dan tempat ibadah di dalam. Halaman di masjid sering digunakan untuk menampung jemaah pada hari Juma’at. Beberapa masjid berbentuk hypostyle atau masjid yang berukuran besar, biasanya mempunyai atap datar di atasnya, dan digunakan untuk penupang tiang tiang.
Contoh masjid yang menggunakan bentuk hypostyle adalah Masjid Kordoba,
di Kordoba, yang dibangun dengan 850 tiang.

Beberapa masjid bergaya hypostyle memiliki atap melengkung yang memberikan keteduhan bagi jemaah di masjid.
Masjid bergaya arab-plan mulai dibangun pada masa Abbasiyah dan Umayyah, tapi masjid bergaya arab-plan tidak terlalu disenangi.
Kesultanan Utsmaniyah kemudian memperkenalkan bentuk masjid dengan kubah di tengah pada abad ke-15 dan memiliki kubah yang besar, dimana kubah ini melingkupi sebahagian besar kawasan solat. Beberapa kubah kecil juga ditambahkan di area luar tempat ibadah.
Gaya ini sangat dipengaruhi oleh bangunan-bangunan dari Bizantium yang menggunakan kubah besar.
Masjid gaya Iwan juga dikenal dengan bagian masjid yang dikubah. Gaya ini diambil dari rekacipta Iran pra-Islam.

Menara
Masjid Hassan II di Casablanca, mempunyai menara masjid tertinggi di dunia
Bentuk umum dari sebuah masjid adalah keberadaan menara. Menara di masjid biasanya tinggi dan berada di bagian pojok dari kompleks masjid. Menara masjid tertinggi di dunia berada di Masjid Hassan II, Casablanca, Marocco.
Masjid-masjid pada zaman Nabi Muhammad saw tidak memiliki menara, dan hal ini mulai diterapkan oleh pengikut ajaran Wahabiyyah, yang melarang pembangunan menara dan menganggap menara tidak penting dalam kompleks masjid. Menara pertama kali dibangunkan di Basra pada tahun 665 sewaktu pemerintahan khalifah Bani Umayyah, Muawiyah I. Muawiyah mendukung pembangunan menara masjid untuk menyaingi menara-menara lonceng di gereja. Menara bertujuan sebagai tempat muazin mengumandangkan azan.

Kubah
Masjid dengan kubah yang besar di Pusat Islam Wina

Kubah juga merupakan salah satu ciri khas dari sebuah masjid. Seiring waktu, kubah diperluas menjadi sama luas dengan tempat ibadah di bawahnya. Walaupun kebanyakan kubah memakai bentuk setengah bulat, masjid-masjid di daerah India dan Pakistan memakai kubah berbentuk bawang.

Tempat ibadah

Tempat ibadah badah atau ruang solat, tidak diberikan meja, atau kursi, sehingga memungkinkan para jamaah untuk mengisi saf atau barisan-barisan yang ada di dalam ruang solat. Bahagian ruang solat biasanya diberi kaligrafi dari potongan ayat Al-Qur’an untuk memperlihatkan keindahan agama Islam serta Al-Qur’an. Ruang shalat mengarah ke arah Ka’bah, sebagai kiblat umat Islam.
Di masjid juga terdapat mihrab dan mimbar. Mihrab adalah tempat imam memimpin solat, sedangkan mimbar adalah tempat khatib menyampaikan khutbah.
Tempat bersuci
Dalam komplek masjid, di dekat ruang solat, tersedia ruang untuk menyucikan diri, atau biasa disebut tempat wudhu. Di beberapa masjid kecil, bilik mandi digunakan sebagai tempat untuk berwudhu. Sedangkan di masjid tradisional, tempat wudhu biasanya sedikit terpisah dari bangunan masjid.

Kemudahan lain

Masjid moden sebagai pusat kegiatan umat Islam, juga menyediakan kemudahan seperti klinik, perpustakaan, dan tempat bersukan.

Aturan dan etika
Masjid sebagai tempat beribadah kaum muslim, merupakan tempat suci. Oleh kerana itu, ada peraturan dan etika yang harus dipenuhi ketika berada di masjid.
Imam
Pemilihan imam sebagai pemimpin solat sangat dianjurkan, meskipun bukan sebuah kewajiban.
Seorang imam haruslah seorang muslim yang jujur, baik dan faham
akan agama Islam.
Sebuah masjid yang dibangun dan dirawat oleh pemerintah, akan dipimpin oleh Imam yang ditunjuk oleh pemerintah.
Masjid yang tidak dikelola pemerintah, akan memilih imam dengan sistem pemilihan dengan suara terbanyak. Menurut Mazhab Hanafi, orang yang membangun masjid layak disebut sebagai imam, walaupun konsep ini tidak diajarkan ke mazhab lainnya.
Kepemimpinan solat dibahagikan dalam tiga jenis, yakni imam untuk solat lima waktu, imam solat Juma’at dan imam solat lainnya (seperti solat khusuf atau jenazah).
Semua ulama Islam berpendapat bahwa jemaah laki-laki hanya dapat dipimpin oleh seorang imam laki-laki. Bila semua jemaah adalah perempuan, maka baik laki-laki maupun perempuan dapat menjadi imam, asalkan perempuan tidak menjadi imam bagi jemaah laki-laki.

Kebersihan
Artikel utama untuk bagian ini adalah: Wudhu
Masjid merupakan tempat yang suci,maka jamaah yang datang ke masjid harus dalam keadaan yang suci pula. Sebelum masuk masjid, jemaah harus berwudhu di tempat wudhu yang telah disediakan. Selain itu, jemaah tidak boleh masuk ke masjid dengan menggunakan kadut atau selipar yang tidak bersih. Jemaah seboleh bolehnya mungkin harus dalam keadaan rapi, bersih dan tidak dalam keadaan junub. Seorang jamaah dianjurkan untuk bersiwak sebelum masuk ke masjid, untuk menghindari bau mulut.
Pakaian Agama Islam menganjurkan untuk berpakaian rapi, sopan, dan bersih dalam beribadah. Jemaah laki-laki dianjurkan memakai baju yang longgar dan bersih.
Jemaah perempuan diharuskan memakai jubah yang longgar atau memakai hijab.
Baik jemaah laki-laki maupun perempuan tidak boleh memakai pakaian yang
memperlihatkan aurat. Kebanyakan umat Islam memakai baju khas Timur Tengah seperti jubah atau hijab.

Penumpuan
Masjid sebagai tempat untuk beribadah tidak boleh diganggu ketenangannya.
Pembicaraan dengan suara yang keras atau di sekitar masjid yang dapat mengganggu jamaah di masjid dilarang. Selain itu, orang tidak boleh berjalan di depan jemaah yang sedang solat.
Para jemaah juga dianjurkan untuk memakai pakaian yang tidak bertulisan maupun berwarna supaya menjaga kekusyukkan solat.
Pemisahan jantina
Masjid Hulhumale di Republik Maladewa
Pemisahan antara lelaki dan perempuan di masjid sangat penting, agar tidak
menimbulkan syahwat. Posisi jemaah wanita di masjid adalah dibelakang jemaah lelaki.
Nabi Muhammad saw dalam hadisnya: “Tempat ibadah terbaik bagi perempuan adalah di rumah”. Bahkan khalifah Umar bin Khattab melarang wanita untuk solat di masjid.
Pada beberapa masjid di Asia Tenggara dan Asia Selatan, jemaah perempuan dipisahkan dengan sebuah hijab atau dibezakan dengan lantainya. Sedangkan di Masjidil Haram, jemaah perempuan dan anak-anak diberi tempat khusus untuk beribadah.
Bukan muslim di masjid
Masjid Schwetzingen di Jerman
Berdasarkan pendapat kebanyakan ulama, penganut selain Islam diperbolehkan untuk masuk ke masjid, selama mereka tidak makan atau tidur didalamnya. Tapi, Mazhab Maliki memiliki pendapat lain yang melarang penganut selain Islam untuk masuk ke masjid dalam keadaan apapun.Menurut Imam Hambali, penganut agama samawi, seperti Kristian maupun Yahudi masih diperbolehkan untuk masuk ke Masjidil Haram. Tapi, khalifah Bani Umayyah, Umar II melarang bukan muslim untuk masuk ke daerah Masjidil Haram dan kemudian berlaku diseluruh penjuru Arab. Masjid-masjid di Marocco yang menganut Mazhab Maliki melarang bukan muslim untuk masuk ke masjid.

Di Amerika Syarikat, bukan muslim diperbolehkan untuk masuk, sebagai mengaji untuk pembelajaran Islam.
Saat ini, di Saudi Arabia, kota Makkah dan Madinah hanya diperbolehkan untuk kaum Muslim saja. Sedangkan bagi bukan muslim, diarahkan ke kota Jeddah.

MCKK

rujukan

1. ^Hillenbrand, R “Masdjid. I. In the central Islamic lands”.
Encyclopaedia of Islam Online. Ed. P.J. Bearman, Th. Bianquis, C.E.
Bosworth, E. van Donzel and W.P. Heinrichs. Brill Academic Publishers.
Template :ISSN.
2. ^
3. ^ The Ottoman: Origins. Washington State University. URL pada
2006-04-15
4. ^ [travel.independent.co.uk/africa/article253491.ece Cairo, Egypt]. The
Independent. URL pada 2007-09-22
5. ^ Budge, E.A. Wallis (2001-06-13). Budge’s Egypt: A Classic 19th-Century
Travel Guide. Courier Dover Publications, 123–128. ISBN 0-486-41721-2. 6. ^ Theoretical Issues of Islamic Architecture. Foundation for Science   Technology and Civilisation. URL pada 2006-04-07

7. ^ Architecture in Christian Spain. Stanford University. URL pada 2007-09-10

8. ^ Cowen, Jill S., “Muslims in China: The Mosque”, Saudi Aramco World,
July/August 1985, pp. 30–35. URL 2006-04-08.
9. ^ Mosques. Charlotte Country Day School. URL pada 2006-04-07
10. ^ Lawton, John, “Muslims in Europe: The Mosque”, January/February 1979, pp. 9–14.  URL pada 2006-04-17.
11. ^ (2001). “The Mosque in America: A National Portrait”. Council on
American-Islamic Relations. Retrieved on 2006-04-17.
12. ^ Wagner, William [2004-05-27]. How Islam Plans to Change the World.
Kregel Publications. ISBN 0-8254-3965-5.URL  pada 22 Jun 2006. “When
the Moors were driven out of Spain in 1492, most of the mosques were
converted into churches”

13. Maqsood, Ruqaiyyah Waris (2003-04-22). Teach Yourself Islam, 2nd
edition, Chicago: McGraw-Hill, 57–8, 72–5, 112–120. ISBN 0-07-141963-2.
14. ^ Fiqh-us-Sunnah, Volume 4: Funeral Prayers (Salatul Janazah). Compendium of Muslim Texts. University of Southern California. URL pada 2006-04-16
15. ^ Eclipses. Compendium of Muslim Texts. University of Southern California. URL pada 2006-04-16
16. ^ ‘Id Prayers (Salatul ‘Idain). Compendium of Muslim Texts. University of
Southern California. URL pada 2006-04-0817. ^ Charity. Compendium of Muslim Texts. University of Southern California.
URL pada 2006-04-17
18. ^ Madanipour, Ali (2003-05-09). Public and Private Spaces of the City.
Routledge, 207. ISBN 0-415-25629-1.

19. ^ Abdo, Geneive (September 2005). “Islam in America: Separate but
Unequal”. The Washington Quarterly 28 (4): 7-17. URL pada 2006-
04-07.
20. ^ Wheeler, Brannon M. (2002-08-01). “Preface”, Teaching Islam. Oxford
University Press US, v. ISBN 0-19-515225-5. “and [Islam] remains the fastest
growing religion both in the United States and worldwide”
21. ^Jamal, Amany The Role of Mosques in the Civic and Political
Incorporation of Muslim American. Teachers’ College – Columbia University.
URL pada 2006-04-22
22. ^ Swanbrow, Diane Study: Islam devotion not linked to terror. The University Record Online. URL diakses pada 2007-02-24
23. ^ “Friday prayer plea for Iraq calm”, BBC, 2006-02-24.URL  pada 2006-04-23.
24. ^ Romey, Kristen M., “Flashpoint Ayodhya”, Archaeology, July/August 2004.
25. ^
26. ^ “JDL Chairman, Follower Accused of Plotting to Bomb Mosque,
Congressman”, Associated Press via FOX News, 2001-12-13. Diakses pada
2006-04-23.
27. ^ “Arafat orders immediate ceasefire”, BBC, 2001-06-03. Diakses pada 2006-04-23.
28. ^ Harris, John, “Paranoia, poverty and wild rumours – a journey through BNP country”, ‘The Guardian’, 2006-04-22. URL pada 2006-05-28.
29. ^ Carlile, Jennifer, “Italians fear mosque plans”, MSNBC. Diakses pada 2006-05-28.
30. Ottoway, David B., “U.S. Eyes Money Trails of Saudi-Backed Charities”,
The Washington Post, 2004-08-19, p. A1. Diakses pada 2007-02-24.
31. ^ Kaplan, David E. The Saudi Connection. U.S. News and World Report.
URL pada 2006-04-17
32. ^ Islamic Center in Rome, Italy. King Fahd bin Abdul Aziz. URL pada 2006-04-17

33. Religious Architecture and Islamic Cultures. Massachusetts Institute of
Technology. URL diakses pada 2006-04-09
34. ^ Vocabulary of Islamic Architecture. Massachusetts Institute of Technology.
URL pada 2006-04-09
35. ^ Walters, Brian (2004-05-17). “The Prophet’s People”, Call to Prayer: My Travels in Spain, Portugal and Morocco. Virtualbookworm Publishing, 14.
ISBN 1-58939-592-1. “Its 210-meter minaret is the tallest in the world”
36. ^ Hillenbrand, R “Manara, Manar”. Encyclopaedia of Islam Online. Ed. P.J. Bearman, Th. Bianquis, C.E. Bosworth, E. van Donzel and W.P. Heinrichs.
Brill Academic Publishers. ISSN 1573-3912.
37. ^ Asher, Catherine B. (1992-09-24). “Aurangzeb and the Islamization of the Mughal style”, Architecture of Mughal India. Cambridge University Press,
256. ISBN 0-521-26728-5.
38. ^ Bierman, Irene A. (1998-12-16). Writing Signs: Fatimid Public Text.
University of California Press, 150. ISBN 0-520-20802-1.

Leave a comment

Filed under Masjid dan Pusat Islam, Renungan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s