Wali Pernikahan

1) Keberadaan wali dalam suatu pernikahan merupakan syarat sahnya sehingga tidak sah suatu pernikahan kecuali dengan adanya wali yang melaksanakan ‘aqad nikah.

Ini adalah pendapat tiga Imam Madzhab; Malik, asy-Syaf’iy dan Ahmad serta jumhur ulama. Dalil pensyaratan tersebut adalah hadits diatas yang berbunyi (ertinya), “Tidak (sah) pernikahan kecuali dengan wali.”

Al-Munawiy berkata di dalam kitab Syarh al-Jâmi’ ash- Shaghîr, “Hadits tersebut hadits Mutawatir.” Hadits ini dikeluarkan oleh al-Hâkim dari 30 sumber. Sedangkan hadits ‘Aisyah diatas (no.3 dalam kajian ini) sangat jelas sekali menyatakan pernikahan itu batil tanpa adanya wali, dan bunyinya (ertinya), “Siapa saja wanita yang menikah tanpa izin walinya, maka pernikahannya batil (tiga kali).”

2) ‘Aqad nikah merupakan sesuatu yang serius sehingga perlu mengetahui secara jelas apa manfa’at pernikahan tersebut dan mudaratnya, perlu perlahan, pengamatan yang saksama dan musyawarah terlebih dahulu. Sementara wanita biasanya pendek pandangannya dan singkat cara berfikirnya atau jarang ada yang berpikir panjang sehingga dia memerlukan seorang wali yang memberikan pertimbangan akan ‘aqad tersebut dari aspek manfa’at dan kesahihan hukumnya.

Oleh kerana itu, adanya wali termasuk salah satu syarat ‘aqad berdasarkan nas yang sahih dan juga pendapat Jumhur ulama.

3) Seorang wali disyaratkan sudah mukallaf, berjenis kelamin laki-laki, mengetahui manfa’at pernikahan tersebut dan antara wali dan wanita yang di bawah perwaliannya tersebut seagama. Siapa saja yang tidak memiliki ketentuan ini, maka dia bukanlah orang yang baik untuk menjadi wali dalam suatu ‘aqad nikah.

4) Wali adalah seorang laki-laki yang paling dekat hubungannya dengan si wanita; sehingga tidak boleh ada wali yang memiliki hubungan jauh menikahkannya selama wali yang lebih dekat masih ada. Orang yang paling dekat hubungannya tersebut adalah ayahnya, kemudian abangnya dari pihak ayah ke atas, kemudian anaknya ke bawah, yang lebih dekat lagi dan lebih dekat lagi, kemudian saudara kandungnya, kemudian saudaranya se-ayah, demikian seterusnya berdasarkan turutan mereka di dalam penerimaan warisan. Disyaratkannya kedekatan dan lengkapnya persyaratan-persyaratan tersebut pada seorang wali demi merealisasikan kepentingan pernikahan itu sendiri dan menjauhi impak negatif yang ditimbulkannya.

5) Bila seorang wali yang memiliki hubungan jauh menikahkan seorang wanita padahal ada wali yang memiliki hubungan lebih dekat dengannya, maka hal ini diperselisihkan para ulama:

6) Pendapat pertama mengatakan bahawa pernikahan tersebut Mafsûkh (batal). Pendapat Kedua menyatakan bahawa pernikahan itu boleh.

7) Pendapat Ketiga menyatakan bahawa terserah kepada wali yang memiliki hubungan lebih dekat tersebut apakah membolehkan (mengizinkan) atau menfasakh (membatalkan) nya.

8) Sebab Timbulnya Perbezaan

9) Sebab timbulnya perbedaan tersebut adalah:

10)“Apakah tingkatan perwalian yang paling dekat dalam suatu pernikahan merupakan Hukum Syar’ie yang murni dan mutlak hak yang terkait dengan Allah sehingga pernikahan tidak dianggap terlaksana kerananya dan wajib difasakh (dibatalkan)”, Ataukah “ia merupakan Hukum Syar’ie namun juga termasuk hak yang dilimpahkan kepada wali sehingga pernikahan itu dianggap terlaksana bilamana mendapatkan persetujuan si wali tersebut; bila dia membolehkan (mengizinkan), maka boleh hukumnya dan bila dia tidak mengizinkan, maka pernikahan itu batal (fasakh).”

11)Perbezaan Para Ulama

12)Sebagaimana yang telah dipaparkan di atas bahawa adanya seorang wali merupakan syarat sah suatu akad nikah. Dan ini adalah pendapat Jumhur Ulama di antaranya Tiga Imam Madzhab.

Sementara Imam Abu Hanifah dan pengikutnya berpendapat bahawa hal itu bukanlah merupakan syarat. Dalil-dalil yang dikemukakan oleh pendapat terakhir ini banyak sekali namun masih dalam permasalahan khilafiyyah yang amat panjang. Di antara dalil mereka tersebut adalah mengqiyaskan nikah dengan jual beli. Dalam hal ini, sebagaimana seorang wanita berhak untuk memanfa’atkan dan menjual apa saja yang dia mahu dari hartanya, demikian pula dia berhak untuk menikahkan dirinya sendiri. Namun para ulama mengatakan bahwa ini adalah Qiyâs Fâsid (Qiyas yang rosak maka tidak sesuai dengan ketentuan) kerana tiga faktor:

Pertama, kerana ia merupakan Qiyas yang bertentangan dengan Nas sehingga menurut kaedah usul, Qiyas seperti ini tidak boleh dan tidak berlaku.

Kedua, Dalam Qiyas itu harus ada kesamaan antara dua hukum dari kedua hal yang diqiyaskan tersebut, sementara di sini tidak ada. Dalam hal ini, nikah merupakan hal yang serius, perlu pandangan yang tajam dan hasil terhadap keberhasilannya, namun berbeza halnya dengan jual beli yang dilakukan dengan apa adanya, ringan dan kecil permasalahannya .

Ketiga, bahawa akad terhadap sebahagian suami boleh menjadi ‘aib dan tercela bagi seluruh keluarga, bukan hanya terhadap isterinya semata. Jadi, para walinya ikut terbabit di dalam proses perbesanan, baik ataupun buruknya.

Dalam hal ini, Abu Hanifah membantah hadis ini dengan pelbagai jawapan:

Pertama, Terkadang beliau mengkritik sanad  hadis yang menurutnya terdapat cacat, iaitu adanya perkataan Imam az-Zuhriy kepada Sulaiman bin Musa, “Saya tidak mengenal hadis ini.”

Kedua, mereka mengatakan bahawa lafazh “Bâthil” di dalam teks hadits tersebut dapat dita’wil dan maksudnya adalah “Bishodadil Buthlân wa mashîruhu ilaihi.” (Maka pernikahannya akan menuju kebatilan dan berakibat seperti itu).

Ketiga, mereka berkata bahawa sesungguhnya yang dimaksud dengan wanita (Mar`ah) di dalam teks hadis tersebut adalah wanita yang gila atau masih kecil (di bawah umur)…

Dan bantahan-bantahan lainnya yang tidak kuat dan sangat jauh di mana para ulama juga menanggapinya satu per satu.

Tanggapan Terhadap Bantahan Tersebut Terhadap Bantahan Pertama, bahawa sebenarnya hadis tersebut memiliki banyak jalur yang berasal dari para Imam-Imam Besar Hadis dan periwayat, bukan seperti yang dikatakan oleh Abu Hanifah melalui perkataan Imam az-Zuhriy tersebut.

Terhadap Bantahan Kedua, bahawa ta’wil tersebut tidak tepat dan amat jauh dari sasaran. Terhadap Bantahan Ketiga dan seterusnya, bahawa nas- nas tentang hal itu amat jelas sehingga tidak memerlukan ta’wil-ta’wil semacam itu.

Dalil-Dalil Pensyaratan Wali di  antara dalilnya adalah hadis yang telah dipaparkan di atas, dan mengenainya:

a. ‘Aliy al-Madiniy berkata, “Shahîh”.

Pensyarah berkata, “Ia dinilai Shahîh oleh al-Baihaqiy dan para Huffâzh .”

b. Adl-Dliyâ` berkata, “Sanad para periwayatnya semua adalah Tsiqât.”

b. Hadits tersebut juga telah dikeluarkan oleh al-Hâkim dan bersumber dari 30 orang shahabat . Imam al-Munawiy berkata, “Ia merupakan hadis Mutawatir.” Dalil lainnya: – Bagi siapa yang merenungi keadaaan ‘aqad nikah dan hal- hal yang dibolehkan padanya seperti perhatian serius, upaya mencari maslahat dan menjauhi impak negatif dari pergaulan suami-isteri, keadaan suami dan ada tidaknya kafâ`ah (kesetaraan), pendeknya pandangan dan dangkalnya cara berfikir wanita serta mudahnya ia tergiur oleh penampilan, demikian pula bagi siapa yang mengetahui kegigihan para walinya dan keinginan mereka untuk membahagiakannya serta pandangan kaum lelaki yang biasanya jauh ke depan….barangsiapa yang merenungi hal itu semua, maka tahulah kita akan keperluan terhadap apa yang disebut Wali itu.

1. Manakala kita mengetahui bahwa pernikahan tanpa wali hukumnya Fâsid (rosak), lalu jika ia terjadi juga, maka ia tidak dianggap sebagai pernikahan yang sesuai dengan syari’at dan wajib difasakh (dibatalkan) melalui hakim ataupun talaq/cerai oleh suami. Sebab, pernikahan yang diperselisihkan hukumnya perlu kepada proses Fasakh atau Talaq, berbeza dengan pernikahan Bâthil yang tidak membolehkan hal itu.

Semoga mendapat penceerahan

Wallahu’alam

Rujukan

• Sofwer Maktabah Assamilah, di akses pada 21 Maret 2009

• Al-Mahallî, Jalâluddîn, Syarh Minhâjuth Thâlibîn, Bayrût: Dârul Fikr, t.t., jld. 3, h. 224

• K.h. Imam Subarno Menikah Sumber Masalah (Gama Media;Yogyakarta 2004) hlm 24

Leave a comment

Filed under Muslimah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s